Jumat, 17 Januari 2014

TEST APTT (Activated Partial Thromboplastin Time)


Tes APTT (Activated Partial Thromboplastin Time); adalah tes saring terhadap, jalur intrinsik dan bersama yang digunakan untuk mendeteksi defisiensi terhadap semua faktor dari jalur intrinsik dan bersama, nilai APTT memanjang jika terjadi defisiensi pada faktor koagulasi jalur intrinsik dan jalur bersama (F. XII, XI IX, VIII, X, V, Protrombin dan Fibrinogen), pada penyakit DIC (Diseminated Intravascular Coagulation), Lupus Antikoagulan, Penyakit Hati   dan hemofilia. juga secara umum digunakan untuk memonitor terapi heparin.

A. Pra Analitik
  • Persiapan Pasien    : Tidak dilakukan persiapan khusus
  • Persiapan Sampel   :
  1. Sampel. darah dapat diperoleh melalui vena punksi
  2. Antikoagulan yang dipakai adalah sodium sitrat 3,2% atau 3,8% dengan perbandingan 9:1 (9 bagian darah:1 bagian Na.Sitrat).
  3. Sampel darah disentrifus 10‑15 menit dengan kecepatan 2000 g
  4. Penampung tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menginduksi aktivasi kontak seperti gelas. Sebaliknya dipakai penampung gelas berlapis silikon atau plastik­
§  Prinsip : Tes APTT adalah tes yang dilakukan dengan menambahkan reagen APTT yang mengandung aktivator plasma dan fosfolipid pada sampel tes. Fosfolipid berfungsi sebagai pengganti platelet. Campuran diinkubasi selama 3‑5 menit untuk aktivasi optimum, kemudian direkalsifikasi dengan kalsium klorida dan beberapa saat akan terbentuk bekuan.
  • Alat       :
            Cara manual
·               Tabung reaksi   
·               Rak tabung
·               Inkubator       
·               Batang pengaduk
·               Stop watch
   Cara semi otomatik
·               Pipet                                                                                                              
·               Stiring bars
·               Tabung tes                                                                                                    
·               Stop watch
·               Cuvet                                                                                                            
§    Alat OTOMATIK
  • Bahan   :
·               Plasma (whole blood dengan antikoagulan natrium sitrat)
·               Reagen APTT yang mengandung ekstrak kloroform dari otak kelinci dan asam elagik, kalsium klorida (CaC12) 0,02 mol/l.

B. Analitik
  • Cara Kerja :
Cara manual
Ada dua cara yaitu :
Cara 1
  1. Reag APTT 100 µl +100 µl plasma dimasukkan dalam tabung 1
  2. 200 µl CaC12 dimasukkan dalam tabung 2
  3. Tabung 1 + 2 diinkubasi selama. 5 menit pada inkubator yang bersuhu 370 C
  4. Ambil 100 µl CaC12 (tabung 2), masukkan dalam tabung 1, jalankan stopwatch, aduk, amati hingga, terjadi bekuan (jendolan)
  5. Tes ini diulang pada, plasma control
Cara 2
  1. Lakukan. tahap 1-4
  2. Biarkan tabung 1 selama 20 detik setelah pencampuran. Pindahkan tabung dari inkubator, miringkan ( metode pendulum) atau putar posisi setengah (       metode rotasi) tabung tes setiap 1‑2 detik. Hentikan stopwatch ketika         cairan sudah tampak dalam bentuk fibrin (jendolan).
Cara semiotomatik
1.      Siapkan sampel dan kontrol, sebelumnya, hangatkan hemostat CaC12 0,02  ml/l pada suhu ruang.
2.      Masukkan plasma (100 µl) ke dalam tabung tes yang sudah terisi stiring bars, inkubasi selama 1‑2 menit pada suhu ruang
3.      Tambahkan reagen APTT (100 µl), inkubasi 3 menit
4.      Tambahkan CaC12 (100 µl) pada saat itu juga jalankan stop watch
5.      Catat waktu yang dibutuhkan untuk membentuk bekuan (print out)

  • Nilai rujukan  :
30 ‑ 45 detik secara manual
26,1 ‑ 36,3 detik secara. Semiotomatik

Kamis, 09 Januari 2014

Fenomena KTI



Fenomena KTI
Apa yang ada di benak setiap mahasiswa jika memasuki semester akhir ? hampir semua dipastikan akan menjawab sama, tugas akhir ! bagi mahasiswa Diploma III Analis Kesehatan namanya Karya Tulis Ilmiah (KTI). Ini adalah mata kuliah wajibdan penting, saking pentingnya sampai sampai mahasiswa dipaksa dapat B, kalau kurang dipaksa mengulang.
Ya, bisa dikatakan ini adalah mimpi buruk atau bagi tiap mahasiswa, makan tak akan nikmat sebelum ketemu si judul, kantin pun sepi, berat badan menurun, wajah pucat, kadar Hb di bawah normal, rambut kusam. Lupa mandi, lupa ibadah, tapi status online terus. Masuk kelas seakan warung kopi karena semua menggosipkan judul, yang sudah ketemu sumringah, yang belum makin stress melihat temannya bahagia di atas deritanya. Maka facebook dan twitter pun penuh oleh keluhan, makin dikomen makin kepanasan.

Lain lagi fenomena perpustakaan. Biasanya buku tamu hanya terisi 1 orang per hari, jadi 1 lembar per hari. KTI kakak tingkat yang biasanya membosankan tiba-tiba jadi rebutan. Sampul buku yang setahun licin mengkilat jadi lusuh karena laris dipinjam. Yang lengang seperti kuburan jadi ramai seperti pameran. Fotokopi kebanjiran pesanan. Ada-ada saja di musim KTI ini. Tak ada satu mata kuliah pun yang bisa menggerakkan mahasiswa segiat KTI, bahkan dosen terganas sekalipun tak mampu memaksa mahasiswa betah di perpustakaan.
Ada lagi, jika kita bisa memantau aktifitas pencarian di internet, maka pada musim KTI ini search engine Google akan sering diminta mencari kata kunci “jurnal”, “pengaruh daun jambu”, “kadar Hb”, “Glukosa”, “asam urat”, “uji-t”, “Escherichia coli”, “efektifitas”, “daya hambat”. Wah, serba ilmiah sekarang, beda dengan semester-semester kemarin yang kata kuncinya berkisar “Wong Bin”, “7 Icons”, “Adobe Photoshop crack”, “cara hacking Facebook” dan dunia gaul lainnya.
Kita memang terbiasa dengan pola dipaksa. Lihat saja laporan praktikum, diberi waktu seminggu belum selesai, tapi jika pagi hari terakhirnya diberi tahu nilai akan dikurang maka sejam berikutnya sudah ada di meja dosen, lengkap dengan gambar warna-warni dan tulisan yang bukan tulisan sendiri, lebih mirip tulisan adik tingkatnya. Di satu sudut teman wanitanya menangis kehilangan buku laporan yang siap dikumpul hari ini, padahal sudah rampung jauh-jauh hari dan tulisannya orisinil. Seperti inikah cara atau motivasi kita menyelesaikan sesuatu ? mengapa kita memposisikan diri sebagai makhluk yang akan bekerja dan kreatif hanya pada saat terpaksa ?
Kembali ke fenomena, tidak semua mahasiswa terjebak dengan keganjilan ini. Banyak yang sudah mempersiapkan KTI-nya sejak lama, paling tidak judul sudah disiapkan. Tapi yah, dasar kompak, sibuknya juga sama-sama mepet. Ketika tenggat waktu judul harus diterima paling lambat besok jam 12, bertepatan dengan mobil jemputannya si dosen datang yang artinya bertepatan juga dengan jam pulang dosen panitia,. Apa yang terjadi pada sebagian, ketika judul belum juga muncul di kepala ? maka mulailah judul improvisasi, sampai tidak masuk akal. Penelitian mencari beda kadar Hb pada laki-laki dan wanita pun disodorkan, atau gambaran nilai glukosa darah pada penderita DM.
Lalu, apa yang salah dengan contoh judul penelitian di atas ? sekilas wajar saja. Tapi harus diingat, judul mesti punya 2 manfaat, manfaat secara ilmiah dan manfaat secara aplikasi. Membedakan kadar Hb pada laki-laki dan wanita sama dengan membedakan Hb pada manusia dan primata lain, ya sudah jelas beda. Nilai normalnya saja sudah beda. Maka ketika itu diteliti, lalu didapat rata-rata, lalu dicari bedanya lewat uji statistik, lalu ketahuan ada perbedaan, lalu apa ? Ya memang sudah beda dari Yang Maha Kuasa. Yang bermanfaat jika meneliti pada suatu populasi wanita, sebagian diberi konsumsi sayur 2 porsi, sebagian 1 porsi, lalu pada beberapa waktu ke depan diperiksa kadar Hb-nya, maka apakah ada perbedaan rata-ratanya. Ini bisa menjawab dasar ilmiah bahwa si sayur memang bisa meningkatkan kadar Hb.
Penelitian semacam menilai kadar glukosa darah pada penderita DM juga sama seperti mencari garam di laut. Jika fanatik dengan glukosa, akan lebih baik jika penelitiannya tentang beda kadar glukosa pada responden yang berpuasa dari subuh hingga magrib dengan responden yang berpuasa dari jam 9 malam sampai besok paginya.
Lalu seperti apa judul yang tidak bermanfaat secara aplikasi ? contoh fiktifnya seperti daya hambat daun anggrek hitam terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Jika memang efektif menghambat, apakah ini bisa diaplikasikan ? bisakah daun anggrek hitam jadi prioritas ? bukankah masyarakat akan tetap memilih membeli obat diare di warung yang cuma seharga 5000 rupiah. Apakah masyarakat mau susah-susah mencari anggrek hitam, mencarinya dalam jumlah banyak ke dalam hutan, mengolahnya dan meminumnya. Bisa-bisa diare sembuh tapi malaria akibat nyamuk hutan. Belum lagi jika ada senyawa kimia yang justru beracun yang belum kita ketahui.
Memang aneh KTI ini, kadang melumpuhkan logika, tapi kadang juga menajamkannya. Sesuatu yang tidak terpikirkan di semester lalu tiba-tiba bisa detail kita menjabarkannya. Mudah-mudahan tulisan ini bisa membuka wawasan tentang KTI. Jangan sampai begitu sidang proposal ditanya tentang hubungan kolesterol dan glukosa dengan DM kita menjawab dengan lantang, tapi begitu ditanya apa itu glukosa ? wajah jadi pucat, bedak luntur karena keringat,garuk-garuk, gagap, tremor, lidah kelu, buka buku sana sini, duduk salah berdiri salah, AC dan kipas angin terasa kurang, buyar semua bekal tadi malam. Ayo, apa itu glukosa ?. Lebih parah lagi, apa judul KTI anda ? kok masih saja lihat ke cover.

Selasa, 19 November 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN (IKM)

“Health is not everything but without health everything is nothing”

Slogan di atas sangatlah tepat sangatlah tepat untuk menjadi cerminan perilaku kita sehari-hari, karena bertapa ruginya kita semua jika dalam keadaan sakit. Waktu produktif kita menjadi berkurang, belum lagi biaya berobat yng semakin mahal menjadi beban bagi keluarga dan sanak saudara kita.
Menurut Hendrick L. Blumm, terdapat 4 faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu: faktor perilaku, lingkungan, keturunan dan pelayanan kesehatan.
Dari ke 4 faktor di atas ternyata pengaruh perilaku cukup besar diikuti oleh pengaruh faktor lingkungan, pelayanan kesehatan dan keturunan. Ke empat faktor di atas sangat berkaitan dan saling mempengaruhi.
Perilaku yang sehat akan menunjang meningkatnya derajat kesehatan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya penyakit berbasis perilaku dan gaya hidup. Kebiasaan pola makan yang sehat dapat menghindarkan diri kita dari banyak penyakit, diantaranya penyakit jantung, darah tinggi, stroke, kegemukan, diabetes mellitus dan lain-lain. Perilaku atau kebiasaan mencuci tangan sebelum  makan juga dapat menghindarkan kita dari penyakit saluran cerna.
Lingkungan yang mendukung gaya hidup bersih juga berperan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam kehidupan disekitar kita dapat kita rasakan, daerah yang kumuh dan tidak dirawat biasanya banyak penduduknya yang mengidap penyakit sperti gatal-gatal, infeksi saluran saluran pernafasan, dan infeksi saluran pencernaan. Penyakit Demam Berdarah juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan tidak bersih, banyaknya tempat penampungan air yang tidak pernah dibersihkan menyebabkan perkembangkan nyamuk aedes aegypti penyebab demam berdarah meningkat. Hal ini menyebabkan penduduk di sekitar memiliki risiko tergigit nyamuk dan tertular demam berdarah.
Banyak penyakit-penyakit yang dapat dicegah, namun sebagian penyakit tidak dapat dihindari, seprti penyakit akibat dari bawaan atau keturunan. Semakin besar penduduk yang memiliki risiko penyakit bawaan akan semakin sulit upaya meingkatkan derajat kesehatan. Oleh karena itu perlu adanya konseling perkawinan yang baik untuk menghindari penyakit bawaan yang sebenarnya dapat dicegah munculnya. Akhir-akhir ini teknologi kesehatan dan kedokteran semakin maju. Teknologi dan kemampuan tenaga ahli harus diarahkan untuk meningkatkan upaya mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Ketersediaan fasilitas dengan mutu pelayanan yang baik akan mempercepat perwujudan derajat kesehatan masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan yang bermutu secara merata dan terjangkau akan meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan. Ketesediaan fasilitas tentunya harus ditopang dengan tersedianya tenaga kesehatan yang merata dan cukup jumlahnya serta memiliki kompetensi di bidangnya.
Saat ini pemerintah telah berusaha memenuhi 3 aspek yang sangat terkait dengan upaya pelayanan kesehatan, yaitu upaya memenuhi ketersediaan tasilitas pelayanan kesehatan dengan membangun Puskesmas, Polindes, Pustu dan jejaring lainnya. Pelayanan rujukan juga ditingkatkan dengan munculnya rumah sakit-rumah sakit baru di setiap kabupaten/kota.
Upaya meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan secara langsung juga dipermudah dengan adanya program jaminan kesehatan (Jamkesmas) bagi masyarakat kurang mampu. Program ini berjalan secara sinergi dengan program pemerintah laiinya seperti Program bantuan langsung tunai (BLT), Wajib belajar dan ain-lain.
Untuk menjamin agar fasilitas pelayanan kesehatan dapat memberi pelayanan yang efektif bagi masyarakat, maka pemerintah melaksanakan program jaga mutu. Untuk pelayanan di rumah sakit program jaga mutu dilakukan dengan melaksanakan akreditasi rumah sakit. 
Ke empat faktor yang mempengaruhi kesehatan di atas tidak dapat berdiri sendiri, namun saling berpengaruh. Oleh karena itu upaya pembangunan harus dilaksanakn secara simultan dan saling mendukung. Upaya kesehatan yang dilaksanakan harus bersifat komperhensif, hal ini berarti bahwa upaya kesehatan harus mencakup upaya preventif/promotif, kuratif dan rehabilitatif.
Dengan berbagi upaya di atas, diharapkan peran pemerintah sebagai pembuat regulasi, dan pelaksana pembangunan dapat dilaksanakan. Dengan menerapkan pelayanan kesehatan 24 Jam untuk masyarakat dengan penuh ikhlas dan tangggungjawab, diusahakan jangan sampai menghilangkan culture atau budaya bangsa Indonesia dimana mahluk hidup saling membutuhkan satu sama lain.
Sumber: Hendrick L. Blumm;dengan bukunya The Environment of Health.

Senin, 18 November 2013

Pemeriksaan Lab yang berhubungan dengan Demam

Pemeriksaan Lab yang berhubungan dengan Demam

1. Apakah demam itu?
  • Demam merupakan reaksi pertahanan tubuh terhadap infeksi atau masuknya benda asing ke dalam tubuh.
  • Demam merupakan salah satu gejala penyakit, jadi harus diketahui penyakit yang mengakibatkan demam untuk menentukan pengobatannya.
  • Gejala-gejala lain yang mengikuti demam: sakit kepala, mual-muntah, nyeri otot, dehidrasi dsb

2. Berapakah suhu tubuh yang termasuk demam?
  • Pengukuran demam dilakukan dengan Termometer yang dipasang di ketiak ataupun dubur.
  • Temperatur Normal : 36o - 37,4o C
  • Sub Febris : 37,5o - 38,4o C
  • Febris/Panas    : > 38,5o C

3. Penyakit-penyakit apa yang sering berkaitan dengan demam?
  • Demam Berdarah Dengue (DHF)
  • Tifus
  • Malaria
  • Infeksi Saluran Kencing dsb

Demam hanyalah gejala suatu penyakit. Karena sulit mendiagnosa penyebab demam tersebut, biasanya dilakukan pemeriksaan darah pada hari ketiga untuk mengetahuinya.





DEMAM  BERDARAH DENGUE

  • Penyebab: Virus Dengue
  • Penularan: Nyamuk Aedes Aegypty

  • Gejala: Menurut Kriteria WHO
  1.  Panas dengan onset (waktu kejadian) yang akut, tinggi, dan menetap 2-7 hari
  2.  Manifestasi perdarahan, termasuk uji torniquet positif
  3.  Hepatomegali
  4.  Syok dengan manifestasi nadi yang cepat dan lemah dengan  tekanan nadi yang sempit (20 mmhg atau kurang), atau adanya hipotensi, akral dingin (gelisah)
  5.  Kriteria LAB:
             Trombosit  ≤  100.000
 Hemokonsentrasi : terdapat kenaikan hct/pcv ≥ 20% pada masa akut dengan  masa penyembuhan

1. Apakah digigit nyamuk yang membawa Virus Dengue selalu menjadi demam berdarah?
  • Apabila kita terinfeksi oleh Virus Dengue akan mengakibatkan:
  1. Asimptomatis/tidak ada gejala apa-apa
  2. Demam tidak spesifik
  3. Demam Dengue/ Infeksi primer
  4. Demam Berdarah Dengue/Infeksi sekunder

Perlu diketahui bahwasannya Demam Dengue yang merupakan infeksi primer (digigit nyamuk yang membawa virus Dengue yang pertama) biasanya tidak menyebabkan syok sampai meninggalnya penderita. Baru pada Demam Berdarah Dengue yang merupakan infeksi sekunder (digigit yang ke dua oleh nyamuk yang membawa virus Dengue) bisa mengakibatkan syok sampai meninggalnya penderita tesebut. Oleh karena itu Klinisi/dokter sangat membutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui apakah kasus Demam Dengue (DD) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) pada penderita tsb.

2. Pemeriksaan Lab apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa Penyakit Demam Berdarah?
-Hematology Lengkap/DL
-Ig G dan Ig M DHF
-NS1 Antigen

3. Apa yang diharapkan  pada pemeriksaan Hematology Lengkap untuk menegakkan diagnosa Demam Berdarah?
-Nilai Thrombosit Menurun/ Thrombositopenia (< 150.000 )
-Hemokonsentrasi (Hct/Pcv) meningkat
-Nilai Lekosit menurun/Lekopeni

4. Pemeriksaan Ig G dan Ig M DHF
Ada 2 cara pengujian  terhadap pemeriksaan Ig G dan Ig M DHF yaitu:
1. Uji Elisa
2. Uji Immunokromatography (Rapid)


Uji Elisa Ig G dan Ig M DHF
Pada pengujian Elisa ini diagnosis DHF dapat dilihat dengan cara:
Membandingkan nilai Rasio IgM dengan IgG DHF.
Cut Off Point Ratio IgM / IgG Infeksi dengue primer-sekunder adalah 1,09

Rasio IgM/IgG > 1,09   InfeksiPrimer
          IgM/IgG £ 1,09   Infeksi Sekunder



Uji Immunokhromatography/ Rapid Ig G dan Ig M DHF 
Dengue rapid tes (Panbio Pty Ltd
Kelebihan pemeriksaan ini adalah cara pengerjaannya yang cepat, yaitu  sekitar 5-30 menit, walaupun kurang sensitive dibandingkan cara Elisa.

Interpretasi hasilnya adalah :
-Infeksi Primer  bila :  IgM +
                                     IgG  -
-Infeksi Sekunder  bila:  IgG + dengan IgM +/-


5. NS1 Antigen
       • Biasanya Positive pada hari 1-9
       • Sensitivitasnya pada Infeksi primer 93%, sedang pada Infeksi sekunder 73%, jadi Tes NS1 Ag yang negative tidak menyingkirkan    
          diagnosa Demam Berdarah
Penyakit Tifus/Typhoid
  • Penyebab : bakteri Salmonella typhi, Paratyphi A,B,C
  • Penularan :  Fecal-oral, yaitu melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh Bakteri Salmonella Typhi

1. Apakah Gejala Penyakit Tifus?
  • Pada minggu pertama:
 keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi  pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare pada anak-anak atau sulit buang air pada orang dewasa, suhu tubuh meningkat terutama sore dan malam hari.

  • Pada minggu ke dua:
 demam yang tinggi terus-menerus, nafas berbau tak sedap, bibir kering pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung. Penderita nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan, acuh tak acuh (apatis), sampai berat (koma).

    Komplikasi penyakit ini dapat mengakibatkan  perdarahan, kebocoran usus, infeksi selaput usus, renjatan bronkopnemonia (peradangan paru) dan kelainan di otak.



2. Pemeriksaan Lab apa yang diperlukan untuk mendiagnosa penyakit Tifus?
  • Hematology Lengkap
  • UL
  • SGOT/SGPT
  • Widal
  • Ig M Salmonella /Tubex/IMBI
  • Biakan Kuman


3. Apa yang diharapkan dari pemeriksaan Hematology Lengkap untuk mendukung diagnosa penyakit Tifus?
  • Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit perdarahan usus atau perforasi.
  • Hitung leukosit sering rendah (leukopenia), tetapi dapat pula normal atau tinggi.
  • Hitung jenis leukosit: sering neutropenia dengan limfositosis relatif.
  • LED ( Laju Endap Darah ) : Meningkat
  • Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia).

4. Apa yang diharapkan dari pemeriksaan Urine Lengkap untuk mendukung diagnosa penyakit Tifus?
  • Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam)
  • Leukosit dan eritrosit normal; bila meningkat kemungkinan terjadi penyulit.

5. Apa yang diharapkan dari pemeriksaan Fungsi Liver untuk mendukung diagnosa penyakit Tifus?
Fungsi Liver: SGOT dan SGPT
  • Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran peradangan sampai hepatitis Akut.

  1. Pemeriksaan Widal

Pemeriksaan Widal merupakan pemeriksaan yang banyak diminta oleh dokter untuk menegakkan diagnosa Tifus, meskipun tes ini banyak kelemahannya.
Merupakan penentuan kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam darah (antigen O muncul pada hari ke 6-8, dan antibodi H muncul pada hari ke 10-12).
Pemeriksaan Widal memberikan hasil negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil tes Widal negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi.

Pemeriksaan tunggal tes Widal kurang baik karena akan memberikan hasil positif bila terjadi :
  • Infeksi berulang karena bakteri Salmonella lainnya
  • Imunisasi penyakit tifus sebelumnya
  • Infeksi lainnya seperti malaria dan lain-lain
Hasil  Tes Widal dipengaruhi oleh :   
  • Stadium penyakit
  • Antibiotika yang diminum
  • Immunologis berbeda antara daerah endemis dan non endemis
  • Reaksi silang dengan antibodi kuman gram negative lainnya

Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan
interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid, akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi).
 Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada orang sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada orang-orang  sehat.
Nilai Cut Off  uji WIDAL secara nasional tidak ada.
Di RSUD Dr Soetomo Surabaya memakai nilai : Antigen O titer > 1/160 dan Antigen H titer > 1/160 untuk menyatakan hasil pemeriksaan tersebut bermakna.

  Tes Widal tidak dapat dipakai untuk menentukan kesembuhan penderita, jadi tidak berguna kalau penderita itu sudah tidak ada keluhan masih melakukan pemeriksaan widal untuk melihat sembuh maupun kambuhnya penyakit tsb karena:
*  Agl O : hilang dalam 6-12 bulan
*  Agl H : hilang dalam 2 tahun


  1. 6.     IDENTIFIKASI KUMAN MELALUI ISOLASI / BIAKAN Gall Kultur

Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.
Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor.
Biakan darah terhadap Salmonella  tergantung dari saat pengambilan pada perjalanan penyakit. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80% atau 70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada akhir minggu ketiga. Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang telah mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume darah dan rasio darah dengan media kultur yang dipakai. Bakteri dalam feses ditemukan meningkat dari minggu pertama (10-15%) hingga minggu ketiga (75%) dan turun secara perlahan. Biakan urine positif setelah minggu pertama.
Walaupun spesifisitasnya tinggi, pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode diagnosis baku dalam pelayanan penderita

7. Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Metode IMBI/Tubex
  • Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM dengan reagen Tubex dilakukan untuk mendeteksi antibody terhadap antigen lipopolisakarida O9 yang sangat spesifik terhadap bakteri Salmonella typhi.

Interpretasi Tes IMBI/Tubex
  • Nilai ≤ 2 Negative,Tidak menunjukkan infeksi demam tyfoid aktif
  • Nilai  3  Borderline,    Tidak dpt disimpulkan. Ulangi pengujian , jika meragukan lakukan sampling ulang bbrp hari kmd
  • Nilai 4-5 Positive        Infeksi demam tifoid aktif
  • Nilai ≥ 6                      Indikasi kuat infeksi demam tyfoid aktif


  Apa Kelebihan Pemeriksaan Anti Salmonella typhi IgM Dengan Metode IMBI?
  • Deteksi infeksi akut lebih dini dan sensitive, karena antibodi IgM muncul paling awal yaitu setelah 3-4 hari terjadinya demam (sensitivitas > 95%).
  • Lebih spesifik mendeteksi bakteri Salmonella typhi dibandingkan dengan pemeriksaan Widal, sehingga mampu membedakan secara tepat berbagai infeksi dengan gejala klinis demam (spesifisitas > 93%).
  • Memberikan diagnosis yang lebih pasti karena tidak hanya sekedar hasil positif dan negatif saja, tetapi juga dapat menentukan tingkat fase akut infeksi.
  • Diagnosis lebih cepat, sehingga keputusan pengobatan dapat segera diberikan.
  • Hanya memerlukan pemeriksaan tunggal dengan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan Widal serta sudah diuji di beberapa daerah endemic penyakit tifus.

8. PCR Salmonella
  • Pada cara ini dilakukan perbanyakan DNA kuman yang kemudian diindentifikasi dengan DNA probe yang spesifik. Kelebihan uji ini dapat mendeteksi kuman yang terdapat dalam jumlah sedikit (sensitifitas tinggi) serta kekhasan (spesifitas) yang tinggi pula. Spesimen yang digunakan dapat berupa darah, urin, cairan tubuh lainnya serta jaringan biopsi.


MALARIA
  • Penyebab : parasit plasmodium
  • Penularan : melalui gigitan nyamuk Anopheles yang membawa parasit
  • Gejala Malaria :
menggigil, demam > 37,5 - 40 C (pola demam periodik berhubungan dengan tipe malaria), berkeringat, sering disertai sakit kepala, mual, muntah, kadang-kadang diare dan nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa, terdapat pembesaran limpa dan hati, dll

Apakah pemeriksaan Lab untuk menegakkan diagnosis Malaria?
  • ICT Malaria
  • Hapusan darah dan Tetes Tebal

ICT MALARIA
ICT Malaria ( ICT= tes imunokromatografi) dapat dipakai untuk:
Membedakan jenis Plasmodium dari penyakit malaria yang menginfeksi seperti Plasmodium falciparum yang dapat menjadi berat yaitu malaria serebral/otak hingga meninggal dunia atau jenis Plasmodium yang lain seperti Plasmodium vivax, ovale, malariae.

HAPUSAN MALARIA
  • Pemeriksaan ini untuk melihat jenis morfologi dari Plasmodiumnya, apakah bentuk cincin, trofosoit, sizont, gametosit yang penting untuk pengobatan pasien maupun untuk memperkirakan menular/tidak.

Sebenarnya banyak sekali penyakit-penyakit yang berhubungan dengan demam, tapi memang hanya ketiga penyakit ini yang penulis bahas karena pasien yang datang kebanyakan berhubungan dengan ketiga penyakit tsb diatas. Mudah-mudahan lain waktu akan penulis bahas.